jump to navigation

Dirham Card, Kartu Kredit Syariah Pertama di Indonesia Agustus 4, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
40 comments

Bank Danamon bekerjasama dengan MasterCard menerbitkan Dirham Card, yang merupakan kartu kredit berbasis prinsip-prinsip syariah. Kartu kredit syariah ini merupakan yang pertama di Indonesia.

“Peluncuran Dirham Card bertujuan untuk melengkapi rangkaian produk kartu yang kami tawarkan kepada para nasabah Bank Danamon,” ujar Dirut Bank Danamon, Sebastian Paredes dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Rabu (18/7/2007).

Dirham Card ini diluncurkan berdasarkan fatwa No 54/DSN-MUI/IX/2006 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dan surat BI no 9/183/DPbS/2007 tentang persetujuan Danamon Syariah Card.

Direktur Syariah Bank Danamon, Hendarin Sukarmadji mengatakan, keunggulan Dirham Card terletak pada ‘akad’, yang merupakan istilah untuk kontrak atau skema transaksi yang digunakan dan dapat berupa ijarah, kafalah ataupun Qardh.

“Pada akad atau skema transaksi Ijarah, penerbit kartu adalah penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu. Atas penyediaan jasa atau ijarah ini, pemegang kartu dikenakan biaya keanggotaan,” jelas Hendarin.

Sementara untuk skema kafalah, adalah Bank Danamon Syariah selaku penerbit kartu bertindak sebagai penjamin bagi pemegang kartu terhadap merchant atas semua kewajiban bayar yang timbul.

“Atas pemberian kafalah, penerbit kartu dapat menerima imbal jasa atau fee,” tambah Hendarin.

Untuk akad Qardh, penerbit kartu adalah pemberi pinjaman kepada pemegang kartu melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank penerbit kartu.

“Pemegang kartu dengan demikian berkewajiban untuk mengembalikan sejumlah dana yang ditarik pada waktunya,” tambahnya.

Dirham Card ini tidak menerapkan sistem bunga, namun menggunakan sistem biaya sewa berdasarkan prinsip ijarah. Sementara pengelolaan dana kebajikan yang diperoleh dari penyelenggaraan produk syariah misalnya late payment fee, disalurkan untuk kegiatan kedermawaan.

Selain itu, Dirham Card juga dimungkinkan untuk keperluan yang bersifat spiritual seperti umrah dan wisata spiritual

Iklan

Kebiasaan Menunda Agustus 3, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Dalam bahasa keuangan keluarga, “waktu adalah uang”. Bila Anda menunda keputusan keuangan yang harus diambil maka hal ini bisa merusak Anda tapi bila Anda melakukannya lebih dini, hal ini bisa memberikan kesejahteraan. Benar begitu? Semua keputusan ada di tangan Anda.

Ric Edelman, perencana keuangan andal dari Amerika, menyebutkan dalam bukunya yang bertajuk The Truth about Money, sedikitnya ada empat masalah utama yang membuat orang gagal menciptakan kehidupan yang sejahtera sebagaimana mereka harapkan, yakni:

1. Sikap suka menunda-nunda (procrastination);
2. Kebiasaan menghabiskan (spending habits);
3. Inflasi yang terus meningkat (inflation); dan …
4. Pajak (taxes)

Dua hal pertama yang disebutkan Edelman lebih merupakan masalah personal/pribadi, sementara dua hal lainnya boleh dikatakan sebagai masalah “sosial”. Atau dapat juga dikatakan bahwa dua hambatan pertama merupakan faktor “internal”, sementara dua yang lainnya bersifat “eksternal”.

Faktor “internal” harus diatasi dan diselesaikan pada level personal. Sikap suka menunda-nunda perencanaan keuangan, merupakan faktor utama tidak tercapainya kehidupan sejahtera di masa datang. Menunda perencanaan keuangan guna mempersiapkan biaya-biaya pendidikan anak, misalnya, dapat berdampak buruk kalau dilihat dalam jangka panjang. Akibatnya, anak-anak yang kita cintai mungkin saja akan kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati proses pembelajaran di lembaga-lembaga yang bermutu baik karena keterbatasan biaya. Dalam hal persiapan dana pensiun juga sama. Mereka yang tidak mempersiapkannya jauh-jauh hari––idealnya dalam rentang waktu 30-40 tahun sebelum masa pensiun itu––boleh jadi akan menyusahkan pihak lain (baik keluarga maupun pemerintah) di masa mendatang.

Berbeda dengan faktor “internal” yang lebih merupakan tanggung jawab pribadi, faktor “eksternal” berkaitan dengan kondisi sosial dan perekonomian suatu negara. Tidak banyak orang yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi dan mengatur soal perpajakan dalam suatu negara. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor poleksosbudhankam yang sangat kompleks yang bahkan bisa melampaui kemampuan suatu pemerintahan karena hubungan-hubungan dalam skala regional sampai internasional-global. Yang mungkin dapat dilakukan oleh orang perseorangan dalam mengatasi hal ini adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan muncul dengan menarik pelajaran dari sejarah masa lalu. Artinya, sekalipun inflasi dan pajak tidak dapat kita kontrol, namun kita tetap dapat menentukan sikap pribadi terhadap hal-hal tersebut.

Biaya mahal yang harus dibayar!
Waktu adalah faktor terbesar dalam menentukan nilai uang. Sebut saja, Anda menabung sebesar Rp10 juta dengan bunga 8 persen per tahun/net. Dalam satu tahun ke depan tentunya Anda akan mengharapkan nilai investasi Anda akan lebih besar dari Rp10 juta atau nilainya bertumbuh menjadi Rp10.800.000. Bila Anda menyimpannya di bawah bantal, maka nilai Rp10 juta akan tetap bernilai Rp10 juta satu tahun mendatang. Malah mungkin berkurang karena adanya inflasi.

Temuan paling penting dalam sejarah keuangan adalah bunga majemuk (compound interest). Prinsip bunga majemuk adalah, hasil bunga yang didapat dari investasi akan ditambahkan kembali ke investasi awal dan dibungakan kembali. Jadi hasil yang akan Anda peroleh dalam tahun-tahun mendatang bukan hanya dari investasi awal yang Anda tempatkan tapi juga dari bunga yang dihasilkan selama uang itu diinvestasikan.

Mari kita lihat perhitungan yang sebenarnya. Seperti contoh di atas, bila Anda menabung sebesar Rp10 juta dengan bunga 8 persen per tahun/net. Satu tahun ke depan nilainya bertumbuh menjadi Rp10.800.000. Anda terus menginvestasikannya. Begitu tahun kedua berjalan, maka Anda akan mendapatkan 8 persen keuntungan lagi tapi bukan dari nilai Rp10 juta tapi dari nilai Rp10,800,000 atau di akhir tahun kedua nilai ivestasi Anda akan bertambah menjadi Rp11,664,000. Semakin panjang masa investasi maka nilai investasi Anda juga akan bertambah sejalan dengan perhitungan bunga berbunga.

Berapa pun tingkat suku yang Anda peroleh dari investasi yang dilakukan, waktu akan memberikan tingkat pengembalian yang luar biasa. Tapi dengan tingkat suku bunga lebih tinggi satu poin saja, nilai keutungan yang mungkin diperoleh akan jauh bertambah.

Andi berusia 25 tahun, Tuti 35 tahun, dan Anto 45 tahun. Masa pensiun bagi mereka adalah diusia 55 tahun. Lihat perkembangan investasi yang mereka lakukan setiap bulan sejumlah Rp1 juta dengan tingkat suku bunga 8 persen. Dalam kehidupan nyata, pajak berpengaruh dan menurunkan jumlah keuntungan yang bisa Anda peroleh.

Jelas terlihat dari tabel di atas, harga yang harus dibayar akibat kebiasaan menunda sangat mahal. Bila Anda menunda 10 tahun (usia Anda saat ini 25), dengan nilai investasi Rp100 juta dan asumsi bunga 6 persen, di usia 55 tahun, Anda hanya memperoleh dana sekitar Rp320 juta. Bila tidak menundanya Anda bisa memperoleh sekitar Rp574 juta.

Satu-satunya tindakan yang harus Anda ambil adalah melakukan perencanaan keuangan keluarga yang menyeluruh sekarang. Jangan tunda lagi, berapapun usia Anda saat ini. Karena menunda keputusan seputar keuangan keluarga harus dibayar mahal di masa datang.
Take action, now…!!

Tulisan : M. Ihsan, Dosen BINUS dan juga seorang perencana keuangan

MENABUNG: MEMBAYAR UNTUK DIRI Agustus 3, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Selama Anda tidak memiliki angsa bertelur emas atau mesin pembuat uang (money machine) maka Anda sendiri yang harus menjadi money machine. Berapa pun penghasilan Anda tidak menjamin bahwa Anda akan hidup nyaman di masa depan. Karena, bukan uang yang Anda hasilkan yang akan menyelamatkan Anda akan tetapi uang yang Anda sisihkan atau simpan yang berperan.

Empat Alasan Mengapa Orang Tidak Menabung
Banyak alasan mengapa individu ataupun keluarga harus menabung, akan tetapi untuk kebanyakan masyarakat, terdapat empat alasan mengapa mereka tidak melakukannya.

1. Karena karier yang sedang menanjak, maka Anda berpikir bahwa Anda akan memperoleh uang banyak nantinya sehingga tidak perlu memulai untuk menabung.

2. Anda merasa bahwa Anda hidup sekarang, dan menabung sangat sulit dan membatasi keinginan Anda.

3. Anda berpikir bahwa menabung tidaklah terlalu penting dan Anda berpikir tidak dapat mengubah prilaku keuangan Anda.

4. Anda berpikir bahwa manabung tidak akan menghasilkan apa pun dengan rendahnya tingkat suku bunga dan tingginya inflasi.

Menabung Membuat Anda Kaya, Bukan Penghasilan Anda
Tidak seorang pun menjadi kaya hanya karena penghasilannya besar. Kekayaan menjadi nyata bila Anda menyimpan atau menyisihkan dana setiap bulannya dan diinvestasikan. Banyak orang berpikir, menurut hemat kami kurang logis, “Bila saja saya menghasilkan lebih banyak maka semua keadaaan akan lebih baik.” Realitasnya, dengan meningkatnya pendapatan pasti akan selalu dibarengi dengan kenaikan standar hidup atau gaya hidup. Sehingga Anda akan tetap membutuhkan hampir semua penghasilan bulanan yang Anda peroleh dengan kerja keras. Kenyataannya, bila individu atau keluarga gagal merencanakan menabung (saving plan) maka mereka hanya akan menambah hutangnya.

Bila Anda mendapatkan promosi maka dengan standar hidup baru Anda harus membeli mobil yang lebih mempresentasikan jabatan Anda. mobil baru dengan kredit. hutang. Kemudian, Anda berpikir dengan posisi sekarang ini maka saya harus membeli urmha yang lebih bagus. Maka Anda memutuskan untuk kembali berhutang. Anda bisa menghasilkan pendapatan yang besar akan tetapi dengan itu diikuti dengan pola belanja atau kebiasaan yang kurang baik, menambah atau menimbun hutang. Karena masyarakat kita sekarang ini apalagi masyarakat perkotaan sangatlah materialistis. Mereka melihat apa yang Anda pakai atau pergunakan. Bukannya apa yang Anda lakukan untuk diri Anda serta keluarga dan tentunya untuk masyarakat yang lebih luas lagi (lingkungan sekitar).

Sangat tidak benar bila Anda berpikir bahwa kekayaan akan datang dengan sendirinya karena penghasilan Anda besar serta tetap mempertahankan perilaku keuangannya. Anda harus berubah menjadi lebih baik dan lebih bertanggung jawab. Dalam kaitannya dengan keuangan, banyak orang beranggapan bahwa ia bisa melakukan kesalahan dengan menggunakan semua penghasilannya untuk keperluan bulanan dan nantinya akan membetulkannya bila penghasilannya meningkat.
Jadi, Anda sangat percaya bahwa dengan penghasilan Anda yang tinggi akan merubah keadaan keuangan Anda di masa datang. Percaya dengan kami, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi bila prilaku Anda terhadap uang tidak pernah berubah. Jangan belanjakan seluruh penghasilan bulanan Anda. Sisihkan dan investasikan untuk masa depan.

Jadi, dapat disimpulkan bila Anda ingin menjadi kaya (dalam artian material) di masa datang dua hal, dan hanya dua hal yang harus Anda ubah dan tingkatkan. Pertama adalah ubah prilaku Anda terhadap uang atau perubahan pada diri Anda sendiri. Kedua adalah tingkatkan persentasi tabungan dibandingkan dengan total penghasilan.

Menabung Bisa Sangat Menyenangkan dan Mudah Dilakukan
Sekaranglah Anda harus memulai untuk menabung. Banyak orang gagal dalam melakukan dan tetap menabung karena mereka memaksakan dirinya dengan jalan mengurangi kebutuhan setiap bulannya. Mereka memangkas sedikit pengeluaran di sini dan di sana. Walau sudah melakukan hal itu tetap saja mereka hanya dapat menyisihkan sedikit setiap bulannya.

Mungkin ada baiknya bila Anda mengubah skenario. Bila dipelajari Anda membayar orang lain terlebih dahulu bukannya diri Anda sendiri. Anda membayar tukang roti bila Anda membeli roti, Anda membayar tukang potong rambut langganan Anda apabila selesai menata rambut Anda. tapi pertanyaan, kapan Anda membayar untuk diri Anda sendiri?

Jadi, sudah sebaiknyalah Anda membayar untuk diri Anda sendiri sebelum Anda membayar untuk orang lain. Menurut hemat kami, ada jalan di mana Anda dapat membayar untuk diri Anda sendiri, dengan menyisihkan 10 persen dari penghasilan bulanan setiap bulannya di depan. Jangan setelah Anda menggunakannya selama sebulan atau apa yang tersisa tapi Anda harus menyisihkannya di muka.

Dengan 10 persen yang Anda bayarkan untuk diri Anda, maka Anda akan memelihara angsa petelur emas yang akan menjadikan anda kaya. Dan dengan sisa yang 90 persen Anda gunakan untuk membayar orang lain. Anda tidak akan merasakan perubahan yang berarti dengan tingkat kehidupan Anda dengan memotong 10 persen dari penghasilan di muka.

Dengan waktu berjalan Anda tidak akan merasakan bahwa Anda sudah memotong 10 persen dari penghasilan Anda. Mungkin Anda merasa sulit untuk mempercayainya. Tapi, bila Anda melakukannya dengan benar maka Anda akan mendapatkan manfaat dari aksi yang Anda lakukan.[mi]

Sumber : Tulisan M. Ichsan, Dosen Universitas Bina Nusantara dan juga perencana keuangan

PENTINGNYA MEMILIKI TUJUAN KEUANGAN Juli 31, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Wajar sekali jika dalam hidup ini kita banyak memiliki keinginan-keinginan yang membutuhkan sejumlah uang untuk mewujudkannya. Jika kita tidak bisa mewujudkannya saat ini karena tidak tersedianya uang yang cukup, kita masih punya kesempatan untuk mewujudkannya suatu saat nanti dengan cara menyisihkan sejumlah uang dari penghasilan untuk ditabung atau diinvestasikan. Sehingga pada akhirnya bisa terkumpul sejumlah dana yang cukup untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Namun alih-alih menjadi semakin dekat dengan tujuan Anda, sebaliknya malah semakin jauh. Ada-ada saja yang menghalangi Anda untuk berinvestasi, terutama godaan untuk memakai dana investasi yang sudah terkumpul untuk suatu pengeluaran yang bukan tujuan dari investasi tersebut. Seakan-akan begitu melihat sejumlah dana terkumpul, tangan Anda sudah gatal untuk membelanjakannya.

Mengapa bisa gagal di tengah jalan? Penyebab utamanya adalah karena Anda tidak mempunyai tujuan keuangan yang spesifik dan terukur dalam berinvestasi, akibatnya akan terjadi 2 hal, yaitu :

A. Kurangnya motivasi dalam berinvestasi.
Misalnya Anda mempunyai keinginan memiliki mobil sendiri dan Anda berjanji akan berusaha menabung untuk mewujudkan keinginan itu.

Cara Anda berinvestasi pasti akan berbeda jika Anda merubah keinginan tadi menjadi suatu tujuan keuangan yang lebih spesifik dan terukur. Misalnya, Anda menetapkan untuk bisa memiliki mobil merek X seharga Rp 80 juta, dan keinginan itu ingin Anda wujudkan 3 tahun dari sekarang.

Dengan cara pertama, semangat Anda mengumpulkan uang untuk membeli mobil mungkin tidak bertahan lama. Demi melihat uang yang sedikit demi sedikit terkumpul, bisa-bisa Anda tergoda untuk memakainya.

Berbeda jika Anda mempunyai tujuan yang jelas berapa lama lagi keinginan tersebut bisa diwujudkan dengan kemampuan berinvestasi saat ini. Semakin hari Anda akan semakin bersemangat melihat betapa keinginan Anda menjadi semakin dekat untuk bisa diwujudkan.

B. Sulitnya mengetahui keberhasilan investasi.
Misalnya Anda menabung untuk mengumpulkan sejumlah dana untuk membeli rumah sebesar Rp 500.000,- tiap bulan. Tiga tahun kemudian terkumpul dana kurang lebih Rp 18 juta. Apakah dana tersebut sudah cukup untuk membeli rumah. Jawabanya mungkin cukup mungkin tidak.

Anda sendiri juga belum menentukan berapa harga rumah yang ingin dibeli. Jika Anda belum menetapkan berapa harga rumah yang ingin dibeli, bagaimana Anda bisa menghitung dana yang terkumpul sudah cukup atau belum.

Sebaliknya dengan menentukan terlebih dahulu berapa harga rumah yang ingin dibeli dan kapan rumah itu ingin dibeli, selanjutnya akan lebih mudah bagi Anda untuk menentukan berapa penghasilan yang harus disisihkan untuk mewujudkan keinginan tadi. Jika jumlah yang disisihkan terlalu berat untuk kondisi keuangan Anda saat ini, maka tinggal melakukan penyesuaian terhadap target harga rumah yang ingin dibeli dan jangka waktu investasinya.

Dengan demikian keinginan tersebut bisa dirubah menjadi tujun keuangan yang lebih realistis. Jika sudah sesuai antara kemampuan berinvestasi dengan tujuan investasinya, maka akan semakin mudah diukur kemajuannya dari hari kehari. Sehingga pada saat yang telah ditentukan Anda berhasil mengumpulkan sejumlah dana yang cukup untuk mewujudkan tujuan keuangan Anda. Pengukuran keberhasilan investasi ini sangat penting, sebab salah satu keberhasilan investasi adalah jika berhasil mencapai target dana investasinya pada waktu yang telah ditentukan.

Berikut ini ada 3 tips dalam menetapkan suatu tujuan keuangan, yaitu :
1. Spesifik.
Suatu tujuan keuangan sebaiknya dibuat secara tertulis, terukur dan mempunyai jangka waktu. Misalnya “saya ingin dalam waktu 12 bulan ke depan bisa menaikan jumlah setoran tabungan rutin menjadi 10% dari penghasilan per bulan.

2. Realistis.
Andalah yang tahu diri Anda. Andalah yang tahu pola pembelanjaan Anda “Mana yang harus dibeli” dan mana yang “Senang juga kalau bisa dibeli”. Mencapai suatu tujuan keuangan adalah seperti orang yang sedang berdiet dalam usahanya menurunkan berat badan. Diet matian-matian bisa saja membuat Anda kehilangan berat badan dengan cepat, tetapi Anda akan cepat bosan dan untuk menghibur diri atas penurunan berat badan itu, Anda menghadiahi diri Anda dengan coklat dan es krim.

3. Beritahu orang lain.
Kebanyakan orang sangat bersemangat saat membuat rencana, tetapi seringkali gagal dalam pelaksanaan. Karena resep yang cukup manjur ini layak dicoba, yaitu dengan memberitahu orang lain, tentunya orang yang sangat dekat dengan Anda misalnya suami, isteri, atau orang tua, tentang tujuan keuangan Anda dan bagaimana rencana Anda untuk mencapainya. Mintalah orang tersebut mengingatkan Anda kapan saja dia melihat indikasi Anda akan menyimpang dari rencana Anda semula. Sebagai contoh orang yang ingin berhenti merokok, bisa memberitahukan orang lain yang cukup dekat dengannya mengenai rencananya. Sehingga temannya berfungsi sebagai pengingat kapanpun si perokok mulai menyimpang dari rencananya.

Sumber : Danareksa

Menyiasati Pembayaran kartu Kredit Juli 31, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, pembayaran kartu kredit minimum adalah sebesar 10 persen dari besarnya jumlah tagihan Anda.

Jika Anda punya Kartu Kredit, Anda pasti menerima pemberitahuan seperti yang tertera diatas. Ya, sejak awal tahun ini, Anda harus membayar minimal cicilan lebih besar dibanding sebelumnya yang hanya 6 persen dari tagihan. Jadi, jika Anda punya tagihan Rp 2 juta, harus membayar minimal Rp 200 ribu. Padahal sebelumnya, Anda sudah “bebas” jika telah membayar Rp 120rb.

Aturan tersebut memang mengundang banyak reaksi keras dari para nasabah. Padahal Bank Indonesia mengeluarkan aturan itu dibuat justru untuk memacu orang agar segera dapat menyelesaikan utangnya dan tidak terlena dengan pembayaran minimum yang akhirnya akan menjadi beban yang menumpuk.

Tapi bagi pengguna kartu kredit aturan tersebut akan mengurangi jatah untuk pembayaran pos yang lainnya. Tapi bagaimana lagi. Namanya saja kita sebagai pihak yang utang. Jadi mau tidak mau harus ikut aturan main yang memberi utang.

Nah yang harus kita cari solusinya adalah bagaimana menyiasati aturan itu? Mumpung ini di awal tahun, yang identik dengan rencana-rencana baru, maka di bawah ini saya akan coba kasih 5 hal yang harus Anda lakukan untuk menghadapi peraturan baru tersebut.

1. Bayar Dulu, Jangan Ditunda
Ada kebiasaan keliru yang kerap kita lakukan dalam membayar kartu kredit. Dana diambil setelah semua kebutuhan atau keinginan terpenuhi. Itu juga kalau masih sisa. Tentu ini enggak benar. Kalau memang mau bayar, ya jangan ditunda-tunda. Misalnya, Anda gajian tanggal 25. Ya bayar tagihan Anda segera setelah gajian, meski jatuh tempo pembayaran, misalnya masih tanggal 10 dan Anda belum mendapat rincian tagihan. Sebaiknya, Anda tetap segera bayar. Soal berapa besarnya, kan, bisa dikira-kira. Jadi tak ada alasan untuk menunda.

2. Tetapkan Berapa Yang Bersedia Anda Bayar Sebelum Anda Benar-benar Memakai Kartunya.
Ini adalah salah satu cara untuk mengatur pengeluaran Anda. Katakan saja bulan lalu tagihan Anda nol. Lalu, Anda belanja di sejumlah toko, di mana total tagihan Anda untuk bulan ini adalah Rp 250 ribu. Nah, setelah Anda melakukan pembayaran sebesar Rp 250 ribu untuk tagihan itu, coba tetapkan berapa nilai yang akan Anda bayarkan untuk bulan depan. Misalnya, Rp 250ribu lagi. Efeknya adalah, di bulan depan, alam bawah sadar Anda akan mengatakan bahwa Anda tidak boleh berbelanja lebih dari Rp 250 ribu. Dengan demikian, diharapkan Anda akan menjadi lebih fokus dan disiplin terhadap pembelanjaan Anda. Nggak pernah kan pakai cara ini?

3. Seleksi Penggunaan Dengan Bijak.
Ayo deh, jujur saja, kadang-kadang kita meremehkan jumlah tagihan minimal yang besarnya 10 persen. Tapi Anda sadar enggak bahwa Kartu Kredit Anda tiap tahun membebankan bunga yang sangat besar – bisa sekitar 42 persen – untuk sisa tagihan yang tidak dilunasi? Jadi kalau Anda membeli sebuah VCD Player yang harganya Rp 1 juta, maka dalam 12 bulan total yang harus Anda bayarkan bisa sekitar Rp.1.420.000. Wiih, hampir separuhnya ya? Iya. Besar sekali kan? Jadi, coba pakai kartu Anda hanya bila Anda yakin bahwa Anda bisa membayar tagihannya.

4. Prioritaskan Kartu Dengan Bunga Rendah.
Anda punya lebih dari satu kartu? Nah mulailah untuk memprioritaskan penggunaan pada kartu yang membebankan bunga paling rendah. Kenapa? Ini karena saat membayar tagihan, sebagian pembayaran Anda adalah untuk membayar bunga. Jadi kalau Anda membayar tagihan hanya minimal saja sebesar 10 persen, maka 3,5 persennya adalah untuk membayar bunga. Rugi kan? Jadi, untuk selanjutnya, kalau Anda punya lebih dari satu kartu, prioritaskan kartu dengan bunga terendah lebih dahulu.

Memang sih, perubahan aturan pembayaran minimal kartu dari 6 persen menjadi 10 persen ada kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Tapi sebagai orang yang optimis enggak ada salahnya, kan, kita melihat sesuatu dari yang baik-baik saja. Lo, di mana baiknya perubahan tersebut? Bahwa utang Kartu Kredit akan lebih cepat terbayar. Ya nggak?
Terus, bagaimana dengan konsekuensi bahwa Anda mungkin harus mengorbankan pos pengeluaran lain? Yaah, kalau Anda sudah berani utang, berarti konsekuensinya, Anda tetap harus bayar dong walaupun itu cukup berat.

Sumber : perencanakeuangan

Hati-Hati Jebakan Konsumerisme Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Sungguh luar biasa promo dan iklan produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan saat ini. Mulai dari produk makanan/minuman, otomotif, telekomunikasi, komputer, dsb. Segala macam tawaran yang diberikan sangat menggiurkan dan bila kita tidak jeli dapat menjebak kita dalam budaya konsumerisme yang nantinya tentu saja berdampak pada kondisi keuangan keluarga kita.

Untuk itu setiap kita melihat atau tertarik pada sebuah produk, maka seharusnya kita sudah dapat menyikapinya dengan bijaksana berdasarkan prinsip-prinsip manajemen keuangan keluarga seperti : 

  • Apakah kita sekedar INGIN atau BUTUH produk tersebut?. Kita harus jujur dan tahu membedakan produk yang akan dibeli tersebut karena kita INGIN atau BUTUH. Kalo sekedar ingin ini berarti nafsu kita yang bermain, kalo kita butuh berarti produk tersebut memang bakal memiliki fungsi yang menunjang dalam produktifitas ekonomi kita. Misalnya, kalo kita mau membeli HP yang sudah mendukung 3G, padahal kita sangat jarang menggunakan fasilitas tersebut berarti ini adalah cuma keinginan dan berarti terjadi pemborosan. Tetapi misalnya fasilitas 3G tersebut dapat membantu kita dalam berbicara face to face dengan klien di perjalanan maka pembelian HP tersebut sangat positif jadinya. Oleh karena itu, mulai sekarang pandai-pandailah mengasah hati kita untuk bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Bila masih belum bisa, ajak pasangan suami/istri untuk membantu menganalisanya.
  • Apakah pembelian tersebut sudah masuk dalam APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga)? Nah, di sinilah letak kedisiplinan kita dalam menjalankan APBK diuji. Bila produk yang akan kita beli tersebut sudah masuk APBK sebenarnya sampai di sini tidak menjadi masalah. Tetapi masalahnya adalah bila tidak masuk APBK, karena otomatis terjadi pembengkakan pengeluaran dan ini bisa jadi akan mengganggu pos-pos pengeluaran lainnya. Saran saya bila memang belum masuk APBK tunggulah bersabar untuk dianggarkan pada periode/bulan berikutnya.
  • Dengan cara apa produk tersebut dibayar, tunai atau kredit, dan alasan-alasan lain. Bila memang sudah yakin ingin membeli produk tersebut, langkah selanjutnya adalah pemilihan metode pembayaran yang tepat tunai atau kredit. Saran saya sebaiknya gunakan alat pembayaran tunai untuk membeli produk-produk yang konsumtif atau yang nilai ekonominya cenderung turun. Karena kalau kita membeli dengan cara kredit (misalnya pakai kartu kredit) maka kita harus menambah pembayaran bunga yang berarti ini menambah pengeluaran kita dan tidak sebanding dengan produk yang nilainya terus turun tersebut.

Tetapi solusi yang paling cerdik dari masalah di atas adalah hendaknya, jangan juga membelanjakan uang untuk membeli produk konsumtif (di luar kebutuhan pokok lho…) dengan uang hasil gaji kita bekerja. Usahakan kita menunggu hasil profit dari investasi yang kita lakukan misalnya dari uang menyewakan rumah, ruko, hasil usaha, dsb. Dengan begitu yang membeli produk tersebut bukan dari hasil keringat kita bekerja sebagai karyawan/pegawai, tapi dari hasil bisnis/investasi yang bekerja keras untuk membelikan kita produk tersebut. Cerdas bukan….?

 

PIRAMIDA FINANSIAL (Pilihan Investasi) Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

 

Apa aja sih pilihan untuk berinvestasi, apa ada tempat investasi lain selain bank yang dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi? Secara umum orang ingin berinvestasi dari pucuk piramid untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya. Ini kesalahan besar, karena semua harus dimulai dari nol, dari bawah.

Piramida Finansial

5. SPEKULASI
Investasi spekulatif adalah tingkatan yang sangat beriko tinggi dan sangat baik dimiliki hanya oleh orang-orang yang telah melakukan langkah 1 sampai 4 di bawah ini.

4. SAHAM BLUE CHIPS
Saham Blue Chips adalah saham yang menggerakkan 90% kinerja pasar modal. Saham-saham perusahaan GO PUBLIC yang terbukti dapat memberikan bagi hasil yang tinggi.

3. REKSADANA
Resiko investasi akan disebar oleh seseorang yang disebut Fund Manager. Dana yang kita tanamkan akan dikelola oleh sang Fund Manager ke beberapa jenis investasi yang lebih besar seperti saham, obligasi dan pasar uang atau campuran ketiganya.

2. TABUNGAN & DEPOSITO BANK
Resiko yang sangat rendah, gunakan instrumen ini sebagai tempat dana cadangan yang dapat diakses setiap saat dengan mudah. Cadangkan 3 – 6 bulan pengeluaran dalam rekening ini. Jadi satu-satunya keuntungan berinvastasi di sini adalah fleksibilitas transaksi.

1. POLIS ASURANSI JIWA

  1. Perlindungan finansial keluarga akibat early death yang dapat membantu keluarga yang ditinggalkan untuk pengeluaran : Rumah sakit, pemakaman, dan keperluan keluarga pasca pemakaman.
  2. Menyediakan dana darurat jika diperlukan
  3. Jaminan dana pensiun

Kebanyakan orang akan bergantung pada penghasilan dan investasinya di poin 2 sampai 5. Orang pasti akan membanggakan mesin uang mereka untuk jaminan hidup masa depan mereka, namun siapa yang akan menjamin bahwa mesin uang ini akan bekerja dengan baik, atau mesin uang diri sendiri telah mengalami sakit kritis atau meninggal. Apakah mesin uang ini masih dapat bekerja untuk memberikan jaminan kelangsungan hidup keluarganya untuk makan, sekolah dll. Sulit ya?

Mari coba {!name_fix} tilik kembali urutan piramida finansial yang {!name_fix} miliki, apak ada langkah yang terlewati?

Selamat berinvestasi !!

Sumber : Internet  –  The Financial Tips

 

 

7 Langkah Menuju Kesuksesan Finansial Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

KEMBANGKAN RENCANA KEUANGAN
Perencanaan sangat besar artinya bagi kesehatan kondisi keuangan Anda. Buat daftar tujuan jangka pendek dan jangka panjang Anda. Dengan mengetahui tujuan-tujuan Anda, Anda dapat merumuskan cara untuk mencapainya, dan segera memulai langkah-langkah untuk mewujudkannya. Mungkin Anda berpikir ,”Gimana nanti aja deh…”. Coba Anda renungkan saat ini juga apakah kita akan memliki penghasilan seperti ini selamanya, dan apakah tujuan hidup kita akan tercapai begitu saja tanpa perencanaan yang jelas? Tampaknya gak mungkiiin deh….

TAATI BUDGET ANDA
Pas jam makan siang, Anda mampir ke ATM dan ingin mengambil uang 50,000 untuk makan siang di luar (sekali-kali gak di pantry lah…). Pada saat Anda lihat saldo yang tersisa ternyata tinggal 20,000!! Hei, kemana saja perginya uang Anda??
Ini semua kembali ke masalah budgeting. Sebisa mungkin monitor secara ketat pengeluaran Anda sehari-hari. Buatlah catatan, berapa banyak yang harus Anda alokasikan untuk keperluan bulanan, keperluan harian dan keperluan rekreasi atau hobby Anda.
Jangan lupa sisihkan jumlah uang yang tetap setiap bulannya untuk ditabung. Ingat!! Pay yourself first, bayar diri Anda dulu untuk tabungan Anda, masa depan Anda, sebelum uang penghasilan kita pakai untuk keperluan kita yang lain…Menyusun budget itu gampang….yang susah itu bagaimana menaatinya…hehehe

HIDUPLAH SESUAI KEMAMPUAN ANDA
Jangan biarkan gaya hidup melampaui penghasilan Anda. Apabila Anda naik gaji (Amiiiin), jangan biarkan pengeluaran Anda ikut naik juga, Justru tingkatkanlah jumlah tabungan Anda…Selalu pisahkan kebutuhan dan keinginan, Anda mungkin tidak akan sakit atau mati jika keinginan Anda tertunda bukan?? Tapi kebutuhan adalah hal yang harus sebisa mungkin dipenuhi tiap bulannya.
Tipsnya….pandai-pandailah memilih teman. Kalau kita berteman dengan perokok…bukan tidak mungkin ada budget tambahan untuk beli rokok. Jika berteman dengan seorang ‘shop-a-holic’ bisa jadi kita jadi beli sesuatu yang sebenarnya kita tidak perlukan….Intinya : KEEP ALL UNDER CONTROL

MENABUNGLAH !!!
Ingat, idealnya setiap orang mempunyai tabungan sebesar 2 – 4 kali lebih besar dari penghasilannya yang tidak boleh disentuh keuali dalam keadaan emergency. Mungkin saja mobil Anda rusak berat bersamaan dengan tanggal jatuh tempo pembayaran asuransi tahunan Anda. Di saat seperti ini…kerasa kan manfaat tabungannya.
Tipsnya…sisihkan 10% dari penghasilan Anda untuk ditabung sebaelum pengeluaran dan tagihan menanti. Jika tidak sanggup 10% bisa didapatkan dengan mengurangi ‘gaya hidup’ kita sebesar 10%. Susah?? Siapa bilang? Jika kita biasa makan dengan budget 10,000 sekali makan….apakah jika dikurangi 1,000 saja akan membuat Anda kelaparan? Hmm…

BEBASKAN DIRI DARI JERATAN HUTANG KARTU KREDIT
Kartu plastik ini memang godaan, seakan-akan kita memiliki uang lebih. Ingat bahwa kartu kredit bukanlah uang lebih!! Gunakan hanya di saat emergency dan bukan ketika Anda ingin membeli barang yang harganya di luar kemampuan Anda.
Tipsnya…memiliki 2 kartu kredit sudah sangat lebih dari cukup untuk Anda. Tapi 1 kartu saja sebenarnya sudah sangat cukup jika dapat digunakan secara bijak.

MEMILIKI PERLINDUNGAN KEUANGAN
Asuransi adalah bagian yang sangat penting dari sebuah perencaan keuangan Anda, dan memegang peranan utama dalam menjamin kepastian kondisi keuangan Anda di masa depan. Tentunya Anda tidak ingin sebuah bencana seperti insiden PJR di tol Jagorawi kemarin menghancurkan rencana masa depan Anda dan keluarga. Pertimbangkan kembali, apakah Anda telah memiliki proteksi yang cukup atas jiwa Anda, kesehatan, pendidikan, masa pensiun, mobil atau bahkan rumah Anda.
Sebuah fenomena menarik yang terjadi adalah orang Indonesia lebih bangga memiliki 3-4 kartu kredit, sementara di Jepang (katanya) orang justru memiliki 3-4 asuransi untuk dirinya. Di Indonesia banyak orang yang mengasuransikan rumahnya, mobilnya (karena masih kredit…hehehe), tapi tidak jiwanya (coba bayangkan siapa yang harus melunasi kredit mobil tersebut jika Anda meninggal)

BERINVESTASILAH
Jika memungkinkan, akan lebih ideal apabila di samping menabung dan mengikuti program asuransi, Anda juga dapat menyisihkan sejumlah dana untuk diinvestasikan.
Apabila Anda telah menjalankan empat saja dari tujuh hal di atas. Anda tengah berada di jalan menuju kesuksesan finansial. Namun, apabila Anda belum memulainya, tidak pernah ada kata terlambat. Mulailah sekarang juga. Ingat bahwa ribuan langkahpun selalu dimalai dengan LANGKAH PERTAMA.

Sumber : Internet

 

Antara Waktu dan Uang Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Beberapa waktu lalu saya ingat kembali dengan sebuah buku yang sudah lama saya baca, judulnya “The Millionaire in You” yang ditulis oleh Michael LeBoeuf, Ph.D. Libur panjang akhir pekan ini saya habiskan dengan membaca ulang buku tersebut.
Dari hasil baca ulang akhir minggu kemarin, saya mencoba untuk sedikit berbagai beberapa hal penting yang bisa menjadi bahan pemikiran bagi Anda bila ingin memiliki waktu untuk menikmati apa yang sudah Anda lakukan terhadap uang Anda selama ini.
Dalam setiap jiwa seseorang tersembunyi kehidupan yang mengagumkan yang penuh dengan kebebasan. Kunci untuk menemukan hal tersebut adalah dengan melihat berbagai kemungkinan-kemungkinan dan mengambil keputusan yang tepat dari pilihan-pilihan yang ada.
Hanya ada empat hal penting berkaitan dengan uang yang harus Anda ketahui:
l Bagaimana Anda menghasilkannya
l Bagaimana Anda menyimpannya
l Bagaimana Anda menginvestasikannya
l Bagaimana Anda menikmatinya
Saya yakin, semua Anda sudah melakukan dan mengetahui hal tersebut di atas. Anda sudah memiliki penghasilan bulanan dari kerja Anda. Dan setiap bulan Anda menabung.
Dari kumpulan simpanan tersebut Anda menginvestasikannya agar memberikan hasil yang lebih baik di jangka waktu yang lebih panjang. Dan tentunya Anda juga menikmati apa yang telah Anda peroleh dari penghasilan bulanan Anda.
Tapi mengapa banyak orang yang merasa bahwa keuangannya masih saja sulit? Bukan kebebasan keuangan yang diperoleh malah pertumbuhan utang yang semakin hari semakin melilit.
Yang menarik dari diagram di atas adalah masing-masing kita terwakili pada satu titik tertentu di dalam diagram diatas, terkait dengan besarnya kekayaan dan waktu yang bisa digunakan secara bebas.
Waktu yang bisa digunakan secara bebas terlihat pada garis horizontal dengan skala 1 sampai 10. dan penghasilan bersih digambarkan pada garis vertical dengan skala sama mulai dari 1 sampai 10. Orang seperti apakah yang paling mirip dengan Anda? Dimanakah Anda akan menempatkan diri Anda dalam diagram tersebut?
(1,1): posisi Budak, dari sisi harta sedikit atau tidak memiliki harta sama sekali dan tak punya waktu bebas untuk dipakai. Dalam kehidupan kita sekarang ini, mungkin saja orang tua tunggal yang harus bekerja ekstra waktu dengan gaji yang rendah untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya atau untuk membayar hutang-hutang rentinir yang terus saja membumbung.
(10,1): Belalang, memiliki banyak waktu tapi tidak memiliki atau sedikit memiliki kekayaan. Kiasan belalang ini seperti cerita dongeng di mana semut selalu bekerja keras untuk mengumpulkan makanan di waktu sulit sedangkan belalang menjalani hidup tanpa mengumpulkan untuk masa sulit.
Titik tengah (5,5) adalah Karyawan. Titik ini mewakili sebagai besar masyarakat. mereka bekerja setiap hari selama berjanm-jam untuk dapat hidup layak guna membayar sewa rumah, menyediakan makanan untuk keluarga dan kebutuhan lainnya.
Mereka menukarkan waktu mereka dengan uang dan menfokuskan untuk mencari uang untuk dapat dibelanjakan. Jika sikap ini terus dipertahankan, mereka akan terus menukar waktu mereka untuk mendapatkan uang, memasuki masa mereka tetap harus bekerja keras atau hidup dengan uang pensiun yang sangat minim.
(1,10): si Pemilik, yang memiliki kekayaan yang melimpah namun hanya sedikit waktu yang bisa digunakan secara bebas. Biasanya para wiraswasta, eksekutif perusahaan atau professional yang bekerja secara mandiri, merupakan kelompok di mana mereka disibukkan dengan bekerja setiap harinya.
Mereka mengira mereka memiliki bisnis, tetapi pada kenyataannya bisnis tersebut yang memiliki mereka. Mereka mengira mereka memiliki karier, tapi sebenarnya karier yang mengikat mereka.
Mereka memiliki banyak barang-barang berharga yang mereka bilang mereka miliki padahal barang-barang tersebut memiliki mereka. Kelompok ini harus terus bekerja untuk dapat mempertahankan gaya hidup atau hal-hal yang mereka miliki sekarang atau lebih banyak lagi.
Dan yang terakhir (10,10), yaitu si Pemenang. Sang pemenang, mereka kaya karena mereka memiliki uang untuk dinikmati dan waktu yang bebas. Sang pemenang adalah mereka yang tidak harus bekerja untuk uang, tapi uang yang bekerja untuk mereka dan menghasilkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Atau bisa disejajarkan sebagai investor dalam bukunya Kiyosaki.
Nah sebenarnya apa sih yang bisa dilakukan agar kita termasuk dalam lingkaran atau titik koordinat (10,10) dalam kehidupan kita?

Uang dan Kesejahteraan Finansial
Di dunia materialistis seperti sekarang ini, adalah “normal” memakai baju yang Anda beli dengan kartu kredit yang belum lunas cicilannya untuk bekerja, meluncur menerobos kemacetan lalu lintas Jakarta dengan mobil yang masih diangsur, untuk mendapatkan penghasilan agar mampu membayar baju, mobil dan rumah yang hampir sepanjang hari kosong karena Anda harus pergi bekerja seharian.
Inilah contoh kehidupan modern saat ini, jika Anda memiliki uang, Anda tidak memiliki waktu untuk menikmatinya. Jika Anda memiliki waktu, Anda tidak memiliki uang untuk dapat menikmatinya. Inilah yang disebut oleh LeBoeuf mengenai perangkap waktu-uang.
Bila ditelaah, pengaruh uang terhadap kehidupan bukan hanya dikarenakan tampilan iklan di berbagai media, tapi juga dipengaruhi oleh naluri alamiah manusia. Mungkin bila Anda memperhatikan anak berumur 3 tahun, tanpa diajari anak tersebut sudah berkeinginan untuk memiliki dan merebut sesuatu. Secara alami setiap manusia berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih yang secara langsung ini berkaitan dengan uang.
Dengan perkembangan teknologi dan perekonomian yang semakin pesat, naluri alamiah manusiapun berubah. Dalam transaksi perekonomian tunai, uang digunakan untuk memuaskan banyak keinginan, keinginan untuk hidup nyaman dan terjamin, keinginan untuk memiliki pekerjaan yang memberikan gaji besar dan lain-lain. Tetapi semua ini tidak berhenti disitu, semua itu akan terus berkembang, sehingga kita lupa akan kebutuhan riil yang sebenarnya kita butuhkan. Yang pada akhirnya malah menyalurkan energi untuk berburu uang sebanyak-banyaknya.
Walau pengaruh naluri alamiah manusia yang ingin lebih atau serakah, kita sebagai manusia tetap memiliki kebebasan dalam memilih dan menentukan nilai-nilai yang kita inginkan. Yang kita dapati sekarang adalah kecenderungan bukannya kendali. Dalam setiap pikiran manusia pasti ada sisi yang menginginkan semua yang lebih. Dengan hal ini memberikan motivasi tersendiri bagi Anda untuk melakukannya dengan baik dan mencapainya dengan cepat. Dorongan untuk hidup berlebih dapat dikendalikan dengan tetap berjalan di rel kehidupan yang telah Anda dan keluarga gariskan sebelumnya. Inilah sisi positif dari keputusan yang diambil.
Celakanya, banyak orang tua yang lupa diri, dengan bekerja membanting tulang, lupa akan waktu dan visi mengenai keluarga yang sejahtera. Di satu sisi, mereka memiliki banyak uang tapi di sisi lain waktu untuk keluarga terlupakan. Mereka membiarkan uang memimpin mereka.

Keluar dari Perangkap Waktu-Uang
Bagaimana kita bisa keluar dari perangkap waktu-uang dan menuju koordinat (10,10) dalam diagram LeBouef? Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami bagaimana Anda sampai di sana untuk pertama kalinya.
Kita terperangkap dalam pemikiran tersebut karena kita selalu berpikir bahwa pemecah masalah keuangan kita adalah gaji atau penghasilan yang kita terima. Semakin banyak uang yang kita hasilkan tentunya akan memecahkan semua masalah keuangan, betul begitu? Tidak seluruhnya benar.
Untuk itu dibutuhkan sebuah pandangan baru mengenai keuangan yang bisa memberikan rasa kesejahteraan yang lebih besar. Gagasannya adalah dengan menciptakan kehidupan keuangan mendasar yang sederhana dan tidak banyak memakan waktu dalam penanganannya.
Satu kata yang menurut hemat saya memberikan makna dalam keuangan keluarga, yaitu kesederhanaan. Kesederhanaan adalah kesadaran untuk berusaha membatasi kebutuhan pokok kehidupan berkeluarga. Kesederhanaan sama halnya dengan seni. Kesederhanaan memerlukan tidak hanya dengan membuang kemewahan hidup, tapi dibutuhkan perubahan cara pandang dari dalam yang tulus.
Ada orang yang mengartikan sederhana dengan kecenderungan mengawasi pengeluarannya dengan sangat ketat seperti halnya pengembara di gurun pasir yang mengawasi air minumnya. Hal ini tidak memecahkan permasalahan, yaitu kesejahteraan lahir batin. Pembatasan berlebihan malah merusak kepuasan kehidupan berkeluarga.
Intisari dari kesederhanaan—yaitu membedakan antara kebutuhan dan keinginan—menjadi sangat penting dalam menumbuhkan hubungan yang selaras dan lebih sehat berkenaan dengan uang. Dalam hal ini, tidak ada rumus yang dapat memenuhi standar semua orang.
Kita pastinya pernah mengenal orang yang kikir dan materialistik, padahal ia hanya memiliki sedikit harta dan di lain pihak Anda juga menjumpai orang yang menyenangkan dan relatif mandiri yang memiliki kebendaan melimpah.
Dari ulasan singkat ini dapat disimpulkan, untuk mencapai koordinat (10,10) atau sebagai pemenang Anda harus menjalani kehidupan ini dengan lebih bijak, dimana Anda sebagai individu yang mengontrol semua keinginan dan kebutuhan Anda. Semoga ulasan ini bermanfaat

Sumber : Harian Sinar Harapan 

PAHAMI SIKLUS HIDUP FINANSIAL ANDA Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Sejalan dengan berjalannya siklus kehidupan manusia mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua sampai tua renta, maka berbagai pandangan dan kebutuhan finansial kita juga selalu berubah-rubah sesuai kondisinya. Contohnya, saat seseorang berada di usia 30-an, kemungkinan sedang sangat menikmati masa mudanya, bekerja dengan giat dan agresif namun berkejaran dengan gaya hidup konsumtif yang bergulat dengan tagihan kartu kredit Menjelang pensiun di usia sekitar 50-an, seseorang biasanya sedang berusaha keras memastikan sudah punya cukup uang untuk bisa melanjutkan hidupnya setelah tidak bekerja, cari aman deh !

Dalam kesempatan kali ini, marilah kita pelajari beberapa kunci-kunci keputusan finansial dalam tiap tahapan kehidupan manusia – yang saya kira perlu kita pahami dengan seksama. Mempelajari hal ini bertujuan untuk memudahkan pengambilan keputusan finansial, apa yang perlu kita lakukan dan apa yang sebaiknya tidak kita lakukan berkaitan dengan uang dari tiap tahapan kehidupan kita. Lebih dari, manfaatnya bukan sekedar hanya untuk menambah pengetahuan kita sendiri, namun juga membantu memahami kebutuhan dan pandangan orang lain secara finansial, sesuai dengan usianya juga.

Karena penting sekali bagi kita untuk bisa sesekali menempatkan diri pada posisi orang lain secara finansial. Sebab suatu keputusan keuangan jarang sekali yang bisa berdiri sendiri, baik Anda yang masih lajang maupun sudah menikah, atau Anda punya tanggungan atau justru Anda yang ditanggung. Selalu saja ada pengaruh serta kepentingan orang lain didalamnya.

Usia Sekolah Dasar sampai dengan dengan lulus Perguruan Tinggi S1 di usia 20-an

  • Pada usia 0 sampai 18 tahun, umumnya orang masih berada di bangku sekolah pendidikan dasar dan seluruh biaya hidup ditanggung oleh orang tua. “Life is beautiful, with no responsibilities what so ever.. ” kira-kira begitulah gambaran hidup seseorang pada masa kanak-kanak dan remajanya. Hanya saja memang tidak seindah kenyataannya jika berkaitan dengan uang. Anda tahu kan bagaimana pada jaman sekolah dulu, sulitnya meminta uang pada orang tua. Tidak.
  • Saat di Perguruan Tinggi, kebanyakan dari Anda mungkin masih di biayai orang tua, tapi pengaruh teman-teman, mengikuti trend atau mungkian memang terpaksa banyak juga dari Anda bahkan harus bekerja paruh waktu mencari penghasilan tambahan untuk tambahan ongkos kuliah. Dengan naiknya ongkos kuliah, transport dan buku-buku, memang agak sulit jika harus mengandalkan orang tua.

Lagipula mempunyai uang sendiri, kedengaran lebih cool & gaul. Lebih bebas menntukan pilihan dalam membelanjakan uang, juga sesekali mentraktir orang tua dan teman bisa jadi kebanggaan tersendiri. Asalkan bisa membagi waktu dengan jadwal kuliah yang harus segera diselesaikan, maka bekerja paruh waktu atau berusaha mendapatkan uang sendiri sambil kuliah tentunya bisa dilakukan. Bekerja sambil kuliah memang memanfaatkan waktu luang dengan positif, tentunya kita sedikit banyak bisa mempraktekkan apa yang dipelajari selama ini di sekolah,

Di usia 20-an

  • Anda mungkin juga masih ingin meneruskan sekolah sebab keinginan belajar juga masih mengebu-gebu. Beruntunglah jika orang tua bisa membantu Anda membayar biaya pendidikan, namun kemungkinan besar orang tua tidak bisa membantu terlalu banyak sebab jenjang pendidikan lanjutan setelah perguruan tinggi atau pendidikan advance learning yang setara jauh lebih mahal daripada pendidikan dasar di SD sampai SMA. Jadi untuk membayar biaya pendidikan lanjutan kemungkinan besar harus diusahakan sendiri. Bisa juga berusaha mendapatkan beasiswa untuk mensponsori biaya pendidikan Anda. Lain halnya jika Anda ingin mengambil pinjaman dengan tujuan membayar biaya pendidikan, beban biaya pendidikan akibatnya menjadi lebih berat, sebab Anda juga membayar bunga pinjamannya. Hanya jika Anda yakin bahwa manfaatnya jauh lebih besar daripada uang yang dihabiskan, maka mengeluarkan uang lebih banyak untuk melanjutkan sekolah Anda boleh saja dilakukan. Sebaliknya, jika hanya sebagai keinginan yang didorong mendapatkan cap prestisius tanpa usaha lebih lanjut untuk menggantikan uang yang habis tadi, maka pendidikan mungkin menjadi suatu hobi atau sarana rekreasi yang terlalu mahal dari segi uang, tenaga dan waktu yang sudah dikorbankan.
  • Masih ingatkah Anda saat mendapatkan gaji yang pertama ? Penghasilan Anda belum terlalu besar saat ini karena itu mulailah membangun kebiasaan berbelanja dengan cara mengeluarkan uang sesuai dengan anggaran yang sudah direncanakan.
  • Pada masa ini biasanya orang masih malas menabung, tapi rajin belanja. Namun seberapapun penghasilan Anda, usahakanlah untuk selalu bisa menyisihkan uang secara rutin dari penghasilan Anda tiap bulan. Pastikan bahwa Anda mempunyai tabungan di bank yang, dengan kondisinya yang nyaman, fasilitas lengkap, biaya administrasi rendah dengan bunga tabungan yang bersaing. Pisahkanlah rekening tabungan dengan rekening gaji,
  • Cobalah untuk bisa membentuk sejumlah dana cadangan, yaitu sejumlah dana yang sengaja disisihkan untuk membiayai pengeluran mendadak yang sifatnya darurat. Pada usia ini kebutuhan dana cadangan belum terlalu besar sehingga cukup mencadangkan sebesar 1 kali pengeluaran Ada perbulan. Anda bisa menempatkan rekening dana cadangan ini di rekening tabungan
  • Mulai berpikir mengenai persiapan pensiun, walaupun masih jauh panggang dari api alias masih lama sekali Anda pensiun, tidak ada salahnya sudah mulai mempersiapkan sejak sekarang. Tidak pernah ada kata terlalu cepat dan terlalu dini untuk persiapan pensiun. Jika perusahaan tempat Anda bekerja mempunyai program daan pensiun sendiri, bergabunglah, atau Anda bsia mengikuti program pensiun Jamsostek dari pemerintah atau belilah program dana pensiun yang ditawarkan lembaga keuanga lain seperti bank dan perusahaan asuransi
  • Jangan membeli asuransi jiwa jika Anda belum mempunyai tanggungan atau terkecuali ada hutang yang harus dicover, namun pertimbangkanlah untuk mengambil asuransi kesehatan jika perusahaan tempat Anda bekerja tidak mencover biaya ini.

Di usia 30-an

  • Pada saat ini Anda mungkin sudah menikah. Karena itu perlu sekali mencover penghasilan Anda dengan asuransi jiwa apalagi jika sudah memiliki anak. Jangan sampai keluarga yang Anda tinggalkan mengalami derita finansial yang terlalu parah karena Anda meninggal terlalu cepat
  • Dengan adanya anak, maka sudah saatnya mempersiapkan dana pendidikan anak. Anda bisa mempersiapkan dengan cara menabung di tabungan pendidikan, mengambil asuransi pendidikan atau ke dalam produk investasi lain.
  • Pertimbangkan juga untuk mengambil asuransi kesehatan yang lebih lengkap seperti asuransi yang mencover risiko kecelakaan, penyakit kritis, cacat tetap akibat kecelakaan, atau risiko-risko kesehatan lain yang belum dicover oleh tunjangan kesehatan dari perusahaan anda
  • Jangan lupa untuk mencover harta benda Anda dengan asuransi kerugian seperti asuransi kendaraan juga asuransi kebakaran
  • Pastikan bawah Anda mengambil cicilan kredit rumah atau KPR yang tidak terlalu memberatkan Anda. Sediakanlah waktu untuk membandingkan penawaran KPR antara bank yang satu dengan yang dan jangan malas untuk berburu rumah idaman Anda, agar sesuai antara budget dengan keinginan.
  • Jika Anda sudah mempunyai sejumlah harta, buat surat wasiat. Membuat surat wasiat sebenarnya mudah dan tidak mahal, tapi orang belum terbiasa sebab tidak tahu caranya. Padahal sangat penting dilakukan agar keluarga yang ditinggal tidak berebut harta warisan, juga memudahkan berbgai urusan administrasi bagi pasangan dan anak-anak. Sebaiknya tanyalah kepada teman yang ahli atau seorang notaries yang sudah berpengalaman dalam membuat surat wasiat.
  • Evaluasi terus program pensiun yang sudah Anda ikuti, pastikan telah memberikan return investasi sejumlah yang Anda harapkan.
  • Jika Anda masih bergulat dengan tagihan kartu kredit, berusahalah mengendalikan gaya hidup Anda dan secara bertahap lunasi tagihan-tagihan hutang tersebut. Paling tidak carilah cara-cara bagaimana agar Anda bisa membayarnya cicilan hutang ini dengan cara paling murah.
  • Tambah pengetahuan dan pengalaman Anda dalam berinvestasi, bersikap kreatif dan mulailah berinvestasi diluar produk bank. Carilah juga investasi dengan biaya murah, setoran investasi yang fleksibel, mudah diakses, pajak yang kecil bahkan kalau bisa bebas pajak, dan likuid.

Di usa 40-an

  • Berusahalah untuk meningkatkan setoran tabungan dan investasi setiap tahunnya terutama untuk persiapan pensiun. Pastikan setoran tabungan dan investasi selalu naik sesuai dengan kenaikan penghasilan Anda. Setiap kali mendapatkan rejeki lebih baik berupa bonus atau THR, sisihkanlah terlebih dahulu untuk menambah investasi Anda.
  • Evaluasi lagi jumlah Uang Pertanggungan asuransi jiwa yang Anda ambil, apakah jumlahnya sudah sudah sesuai dengan kebutuhan untuk mengcover risiko kehilangan penghasilan. Jika biaya hidup keluarga Anda telah berubah, naik atau turun, maka sebaiknya jumlah uang pertanggungan asuransi jiwanya juga disesuaikan
  • Pastikan bahwa cicilan KPR Anda tetap berjalan dengan semestinya sesuai jadwal, simpanlah segala bukti pembayaran berikut catatan saldo terakhir dari hutang KPR Anda. Jika suku bunganya naik, dan karenanya jumlah cicilannya menjadi terlalu berat, bisa Anda pertimbangkan untuk memperpanjang jangka waktunya.
  • Sebaliknya jika beruntung Anda memiliki sejumlah dana yang cukup besar, bisa dipertimbangkan untuk mengadakan pelunasan KPR sebagian atau seluruhnys dari sisa saldo KPR sekarang. Melakukan hal ini, bisa membuat Anda menghemat pembayaran bunga KPR, dan mempercepat waktu pelunasan.

Di usia 50-an

  • Disaat menjelang pensiun, ada baiknya Anda mengatahui saldo pensiun Anda yang terakhir, sehingga bisa melakukan evaluasi dan revisi jika dana yang terkumpul masih jauh dari target,
  • Review semua investasi Anda, jika hampir semua investasi Anda berisiko tinggi segeralah melakukan iversifikasi dan alokasikan secara proporsinal ke investasi yang risikonya lebih rendah,
  • Catat kapan cicilan KPR yang terakhir dan pastikan bahwa pembayaran cicilan KPR sudah selesai sebelum Anda pensiun,
  • Pertimbangkanlah untuk mengalami asuransi kesehatan hari tua, yang mengcover biaya-biaya kesehatan dan rawat inap di rumah sakit yang terjadi. Asuransi kesehatan hari tua atau longterm care insurance ini benefitnya seharusnya bisa dinikmati pada saat pensiun sampai seumur hidup Anda,

Di usia pensiun, 55 atau 60-an
Inilah saatnya untuk mengajukan klaim dana pensiun dari program pensiun yang Anda ikuti selama ini. Dana pensiun yang diikuti dari perusahaan tempat Anda bekerja, biasanya akan memberikan seluruh total dana pensiun secara seklaigus didepan, sehingga selanjut Anda tinggal mengemabil sesuai dengan kebutuhan tiap bulan, dan menginvesatsikan sisanya agar terus berkembang kedalam instrument investasi yang tidak terelu berisiko namaun bisa memberikan pendapat tetap setara dengan bunga. Jika Anda mengiktui program pensiun yang diselenggrakan Jamsostek, segeralah mengajukan klaim kepada badan pemerintah ini. Anda bisa mendapatkan dua pilihan, apakah bisa diambil sekaligus atau mengambilnya secara bulanan seperti layaknya gaji. Jika Anda sempat beberapa kali pindah kerja, namun program pensiun Jamsostek pada perusahaan sebelumnya belum sempat Anda klaim, namun sudah terlanjur memulai yang baru, jangan segan-segan utnuk mengajukan klaim Barangkali dulu pernah iseng mengikuti program pensiun yang ditawarkan oleh bank atau perusahaan asuransi. Jangan malu untuk mengajukan klaim hanya karena merasa uangnya tidak seberapa. Sebab sedikit atau banyak pada masa usia ini jumlah berapapun akan sangat berarti. Maksimalkan seluruh aset-aset Anda menganggur untuk segera bisa menghasilkan income untuk Anda. Misalnya jika Anda mempunyai tanah, bangunan atau kendaaraan yang menganggur, mungkina Anda bisa mengusahakan mendapatkan rental income dari aset-aset tersebut. Berhati-hatilah pada investasi yang berisiko tinggi, karakternya yang fluktuatif kemungkinan besar kurang cocok dengan usia dan kesehatan Anda. Periksa kembali surat wasiat Anda apakah sudah seperti yang Anda inginkan, buatlah perubahan jika perlu. Pastikan bawa pasangan Anda dan anak-anak mengetahui tentang surat wasiat tersebut, Pertimbangkanlah untuk menyisihkan sejumlah dana tunai untuk mempersiapkan dana kematian bagi Anda dan pasangan. Kedengarannya memang sangat tidak menyenangkan juga menakutan, tetapi tindakan ini akan sangat membantu keluarga yang ditinggal walaupun tidak bisa mengurangi kesedihan orang-orang yang mencintai Anda yang telah Anda tinggalkan
 

Sumber : Danareksa.com

MEMBANGUN POLA MENABUNG BERKALA Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Investasi & Keuangan.
add a comment

Mencapai kesejahteraan menjadi impian semua orang. Tentunya membutuhkan kerja keras dan cerdas, yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Bagaimana caranya? Satu-satu jalan adalah dengan menabung, yaitu dengan menunda kesenangan sesaat di masa sekarang untuk tujuan yang lebih besar di masa datang.

Dari manakah sumber dana untuk tabungan tersebut? Tentunya dari penghasilan yang dibawa pulang setiap bulannya. Penghasilan bulanan seringkali hanya dapat memenuhi kebutuhan bulanan, malah seringkali habis ditengah bulan. Hal inilah yang seringkali terjadi dalam ¡§keluarga muda¡¨ karena umumnya mereka masih memerlukan banyak kebutuhan jangka pendek. Seperti, mobil dan rumah.

Saat ini bunga kredit murah banyak ditawarkan oleh sektor keuangan. semua ini mendorong orang untuk berbelanja dengan berhutang. Hutang, tidak semuanya buruk. Tapi mengambil hutang tanpa perencanaan yang matang dapat berakibat buruk terhadap keuangan keluarga.

Dua sumber penghasilan utama
Nah berbicara mengenai menabung, ada dua sumber penghasilan yang bisa kita peroleh, pertama adalah dengan kita bekerja setiap hari selama satu bulan kita akan mendapatkan penghasilan man at work. Atau yang kedua, money at work, di mana uang atau capital yang sudah Anda kumpulkan yang bekerja dan menghasilkan pendapatan.

Tentunya saja, bila kita bekerja memberikan jasa kita bisa mendapatkan penghasilan. Semakin ahli seseorang, umumnya semakin besar penghasilannya. Tapi pernahkah kita berpikir, apa yang mendorong kita bangun setiap pagi buta, masuk ke mobil dan berangkat ke kantor? Sebagian besar, tujuannya adalah mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membayar semua kebutuhan dan bila ada tersisa, dapat digunakan untuk kesenangan seperti liburan, pakaian dan lain-lain.

Sayangnya, tidak ada jalan bagi pekerja atau pegawai untuk dapat hidup sejahtera hanya dengan bekerja dan mendapatkan gaji. Pajak dan inflasi, dua hal pertama yang menggerogoti pendapatan bulanan. Kebutuhan dan keinginan jangka pendek, biasanya menjadi prioritas utama. Yang pada akhirnya dirasakan bahwa penghasilan bulanan yang dipeoleh tidak mencukupi. Untuk dapat hidup sejahtera sepanjang masa, satu-satu jalan adalah dengan mencari jalan untuk dapat menyisihkan sebagai dari penghasilan bulanan untuk membangun sebuah kapital (modal). Jadi bagi Anda yang bekerja atau menjadi pegawai, solusi untuk membangun kesejahteraan adalah dengan mengkonversikan penghasilan bulanan menjadi kapital dengan menyisihkannya sebagai secara berkala.

Nah, mulai terbangunnya sebuah kapital akan memberikan potensi pendatan lain dari kapital yang diinvestasikan. Inilah yang disebut dengan “money at work¨. Dimana uang yang Anda sisihkan dan diinvestasikan yang bekerja keras untuk memberikan penghasilan kepada Anda.
Misalkan Anda menempatkan investasi dalam bentuk saham. Tentunya bila perusahaan tersebut performanya baik, maka diakhir tahun umumnya mereka akan membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Sejalan dengan keuntungan yang didapat, harga saham perusahaan juga semakin meningkat. Hal ini bisa memberikan potensi keuntungan dari sisi kenaikan harga saham. Tapi tentunya, ini juga bisa bergerak berlawan arah, dimana perusahaan mengalami kerugian. Sebagai investor bukan saja Anda tidak mendapatkan keuntungan ebrupa dividen, tapi juga harus menerima penurunan harga saham di pasar.

Atau Anda berinvestasi dalam bentuk properti. Property juga memberikan dividen, berupa uang sewa. Tentunya bila uang sewa dapat menutupi semua pengeluaran yang dibutuhkan maka properti ini memberikan penghasilan positif. Sebaliknya bila ternyata kebutuhan tetapnya lebih besar dari uang sewa maka property tersebut masih membutuhkan dana untuk menutupinya dari sumber pendapatan lain.

Tentunya, tidak ada seorangpun yang berinvestasi dengan ide kehilangan uangnya. Tapi yang banyak terjadi adalah kerugian karena kurangnya perencanaan dan pertimbangan kebutuhan likuiditas.

Kendala mengapai kesejahteraan
Sedikitnya ada empat kendala utama yang membuat orang gagal menciptakan kehidupan yang sejahtera sebagaimana yang mereka harapkan, yakni: kebiasaan untuk menunda-nunda, kebiasaan belanja yang tak terkontrol, pajak dan inflasi.

Dua faktor akhir atau bisa disebut faktor eksternal berkaitan dengan kondisi sosial dan perekonomian suatu negara. Tidak banyak orang yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi dan mengatur soal perpajakan dalam suatu negara. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang kompleks, bahkan bisa melampaui kemampuan suatu pemerintahan karena hubungan-hubungan dalam skala regional sampai internasional-global. Yang mungkin dapat dilakukan oleh orang perseorangan dalam mengatasi hal ini adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan muncul dengan menarik pelajaran dari sejarah masa lalu. Artinya, sekalipun inflasi dan pajak tidak dapat kita kontrol, namun kita tetap dapat menentukan sikap pribadi terhadap hal-hal tersebut.

Sedangkan dua hal pertama lebih merupakan masalah personal/pribadi atau dapat juga dikatakan bahwa dua hambatan pertama merupakan faktor internal.

Faktor internal harus diatasi dan diselesaikan pada level personal. Sikap suka menunda-nunda perencanaan keuangan, merupakan faktor utama tidak tercapainya kehidupan sejahtera di masa datang. Menunda perencanaan keuangan guna mempersiapkan biaya-biaya pendidikan anak, misalnya, dapat berdampak buruk kalau dilihat dalam jangka panjang. Akibatnya, anak-anak yang kita cintai mungkin saja akan kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati proses pembelajaran di lembaga-lembaga yang bermutu baik karena keterbatasan biaya.

Harga mahal karena sikap suka menunda
Sebagai contoh, misalkan Andi saat ini berusia 30 tahun dan berencana untuk menyisihkan sebesar Rp500 ribu setiap bulannya sampai usia pensiun 55 tahun dalam insvestasi yang memberikan tingkat bunga sebesar 9% pertahunnya. Begitu Andi ini memasukan tabungan hingga usia 55 tahun, Andi akan memiliki kekayaan kekayaan lebih dari Rp560 juta. Akan tetapi bila ia memutuskan untuk menunda pelaksanaan menabung satu tahun saja dan memulainya saat usia 31 tahun, begitu ia berusia 55 tahun, ia hanya akan memperoleh sekitar Rp506 juta.

Penundaan satu tahun dengan total dana penyisihan sebesar Rp6 juta, akan berkibat berkurangnya dana masa depan sebesar hampir Rp55 juta atau total kehilangan sebesar 9 kali dari total tabungan regular. Bagaimana bila Anda menudannya 5, 10 tahun? berapa harga yang harus Anda bayar karena kebiasaan menunda ini? Tentunya akan sangat besar.

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik perempaun maupun laki-laki. Tapi sebelum bicara mengenai cara mengatasinya, ada baiknya kita lihat dulu apakah Anda terkangkit virus overspending? Ikuti pertanyaan berikut ini:

  • Apakah Anda berbelanja ketika merasa marah, kecewa?
  • Apakah Anda tidak tahan untuk tidak ke mal atau department store?
  • Apakah banyak barang belanjaan yang Anda beli belum pernah Anda gunakan?
  • Apakah Anda cenderung menghindari pembicaraan berkaitan dengan tabungan dan belanja?
  • Apakah kebiasaan belanja Anda mengakibatkan masalah dengan pasangan Anda?
  • Apakah Anda tidak tahan terhadap berbagai diskon atau promosi yang ditawarkan
  • Apabila barang yang Anda inginkan ternyata lebih mahal dari perkiraan, apakah Anda akan tetap membelinya?
  • Apakah Anda mulai mengurangi anggaran lain untuk memenuhi kebutuhan belanja Anda?
  • Apakah Anda membayar belanjaan dengan kartu kredit walau Anda tidak memiliki uang tunai?
  • Apakah Anda termasuk yang sulit untuk menabung?
  • Apakah Anda terbiasa untuk membelanjakan bonus tahunan Anda untuk keinginan Anda?
  • Apakah Anda belanaj barang mewah walaupun hutang Anda sudah bertumpuk?

Apabila Anda menjawab ya,  paling sedikit lima pertanyaan diatas, bisa jadi Anda sudah mulai terjangkit virus ¡§overspending¡¨. Bila penyakit ini sudah kronis maka akan sangat sulit untuk dapat mengobatinya. Karena hal ini sangat berkaitan dengan kebiasaan yang Anda lakukan sehari-hari. Untuk mengubahnya dibutuhkan tekad dan keuletan agar keluar dari kebiasaan buruk belanja tanpa kontrol.

Untuk itulah kami menawarkan satu tindakan praktis yang sebaiknya dilakukan yaitu menabung secara sistematis. Bagaimana caranya?

Selama ini pola menabung yang umum dilakukan adalah dengan menabung dari sisa belanja bulanan keluarga. sudah tidak zamannya lagi melakukan pola itu. Mulai sekarang kami menawarkan pola menabung yang baru dan lebih efektif, yaitu dengan membayar untuk diri Anda sendiri (menabung) diawal setiap mendapatkan penghasilan bulanan.

Bila dipelajari Anda membayar orang lain terlebih dahulu bukannya diri Anda sendiri. Anda membayar tukang roti bila Anda membeli roti, Anda membayar tukang potong rambut langganan Anda apabila selesai menata rambut Anda. tapi pertanyaannya, kapan Anda membayar untuk diri Anda sendiri?

Jadi sudah sebaiknyalah Anda membayar untuk diri Anda sendiri sebelum Anda membayar untuk orang lain. Jangan menabung setelah Anda menggunakan pendapatan selama sebulan atau apa yang tersisa tapi Anda harus menyisihkannya di muka.

Kami menganjurkan sebagai awal, Anda menabung 10% dari pendapatan regular bulanan. 10% dari pendapatan tidak akan merubah gaya hidup yang Anda jalani. Dengan 10% yang Anda sisihkan, Anda akan membangun sebuah kapital yang pada akhirnya memberikan penghasilan kepada Anda. Tapi dengan satu syarat mutlak yang harus dipegang, jangan pernah mengambil dari dana yang Anda sisihkan sebesar 10% setiap bulannya untuk masa depan.

Demikianlah hal-hal berkaitan dengan pola menabung yang bijak yang bisa Anda lakukan dan praktekan dalam keuangan keluarga. Semoga ulasan singkat ini membantu Anda dalam membangun kebiasaan menabung untuk mencapai kesejahteraan yang didambakan. Selamat menabung!!

Penulis : Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN.