jump to navigation

Kisah Pohon Apel Januari 31, 2008

Posted by safruddin in Inspirasi.
trackback

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

Komentar»

1. iis - Februari 16, 2008

saat aku membaca cerita ini, tanpa sadar air mataku mengalir… aku rindu pelukkan umiku, ingin pulang berlari memeluknya tapi saat ini aku tak bisa … pengen pulang ongkos mahal…

2. awan - Februari 16, 2008

sungguh cerita yang sangat dalam dan sangat mengharukan… penuh makna dan hikmah…dengan membaca cerita ini,sekarang aku sadar betapa selama ini aku terlalu lupa dan terlalu melawan orang tua…….mulai detik ini aku akan menyayangi dan mengasihi orang tuaku…………

3. MAYA - Februari 27, 2008

ceritanya keren….
i like banget,,,
I LOVE U MA, FA

4. mitha - Maret 1, 2008

cerita sederhana yg mempunyai arti yg begitu dalam.

5. lelaki idaman wanita - Maret 3, 2008

wah wah wah
hik…hik…hikk…

nyentuh banget euy!

creatornya hebat meureun?
perkenalkan saya masih bingung ama cara menjadikan wordpress kaya
punya creator,

maaf ya mungkin bukan di sini tempat curhatnya, tapi bisa dibantu ga?

nuhun sebelumnya!

;@)

jack

6. lelaki idaman wanita - Maret 3, 2008

I love you too maya!

you’ll never walk alone
kaya liverpool aje ye

7. Abirama - Maret 6, 2008

SUBHANNALLAH, ceritanya sangat bagus sekali, air mataku bercucur ketika membaca cerita ini, AKU SANGAT MENCINTAI ORANG TUAKU, rasanya sekarang aku ingin pulang dan memeluk mereka.

8. Hetbin - Maret 27, 2008

Luar Biasa… Begitu Dahsyat Cerita ini.!!

9. nanda - Maret 27, 2008

bagus buanget.

10. yana - Maret 28, 2008

kisah itu menyentuh banget …. Ya Allah…., dah banyak banget dosa yang sudah aku perbuat pada orang tua ku, terutama pada Ibu ku….. Ya Allah ampuni dosaku…

buat yang bikin artikel ini aku ucapkan terima kasih…., artikelnya bagus sekali sangat menyentuh hati….

11. rani - April 17, 2008

sangaaaattt menyentuh hatiku…aku jadi teringat dengan ibu ku
Dia penuh perjuangan memenuhi kebutuhan anak-anaknya…
Aku mencintaimu Ibu, aku mau membuatmu tersenyum.
i LuV u…..Mom

12. rian - April 30, 2008

Luar biasa… saya jadi teringat dengan ibu yg telah membesarkanku….sebenarnya saya sangat ingin membahagiakan ia tp apadaya ia telah tiada…..tuk itu ijinkanlah aku mencopi cerita ini, aku membagikanya kepada saudara 2 yang lain yang masih memilki kedua orang tua.

13. Ova - Mei 12, 2008

aku terharu banget dengan cerita ini..
aku baru sadar ternyata kasih sayang org tua tuch besar bgt!!
ternyata aq salah paham selama nech dengan orgtua ku..
Ma…
pa…
aku sayang kalian…..!!!

14. Ridwan Firdaus - Mei 19, 2008

asli baru kali ini baca cerita sampe terharu begini
good story, sir
may i copy thisπŸ˜€

15. Fitrie - Mei 21, 2008

kalau boleh aku menangis,,aku akan menangis sekarang..atau aku harus tertawa bahagia??? karena ternyata begitu banyak kisah yang menyentuh yang dapat membuat hati bergetar….kisahnya keren banget…

16. Patiharaw - Mei 28, 2008

Terimakasih banyak Pak

17. ri2n - Mei 31, 2008

subhanallah…

begitu banyak amalmu yg telah membuat hati semua orng tersentuh

dan menguraikan air matanya,, dan membuat orng sadar begitu besar

pengorbanan kedua orngtua terutama ibu kita yg tlah melahirkan kita

antara hidup dan mati.. tq for u ;> sumpah aq ampe merindng baca

artikel ini.

18. irene - Juni 3, 2008

cerita terbaik yang pernah ak baca

19. muhammad hasan - Juni 8, 2008

subhanallah, saya sangat terharu begitu membaca crita ini. pada awalnya saya sempat marah, benci, jengkel, dan sebagainya: ternyata setelah membaca sampai akhir cerita ini saya baru menyadarinya ternyata apa yang saya sangkakan itu salah. ……………………. .terima kasih.

20. hanz - Juni 11, 2008

good..!!

21. ayoex - Juli 4, 2008

wah………critanya snGat menyentuh hatiku….
slama ini aku nga pernah berfikir bagai mana orang tua ku
berkorban demi kebahagiaanku…..
mulai krg ku hruz bisa membuat orTu tersnyum dan bhgia
melihat ku………….
ku mau bangGa’in mereka…..
LuV u ………..
you always in my hearts……. ^_^

22. vthree - Juli 7, 2008

Setelah aku membaca sepenggal cerita ini aku jadi merasa betapa egoisnya aku sebagai anak…memang benar ku akui begitulah cara kita (seorang anak)memperlakukan orang tua kita, terlihata sadis memang tapi…..itu memang nyata, bahkan mereka mau mengorbankan seluruh dari hidupnya untuk kita..dan apa yang bisa kita lakukan sekarang untuk mereka…cinta dan pengorbanan rasanya belum cukup di bandingkan dengan apa yang telah mereka berikan untuk kita…
Yaalloh,,,aku ingin Engkau beri mereka kebahagiaan yang hakiki di dunia ini, dan surga di akhirat kelak agar aku bisa terus mengagumi mereka 4ever….

23. pemuja cinta - Juli 7, 2008

makasih dah membuka pintu hati q lebar-lebar, memang mereka sangat berharga tak ada yang menandinginya. love u ibu bapak

24. h3R's - Juli 11, 2008

wew,,, menyentuh bgt,, cerita ni hrs mestu kudu di bacama semua yang ngerasa anak
oy seandainya cerita ini di baca ma MALIN KUNDANG kan dy gak bkal di kutuk jd BATU..
RIGHT??!!!!!?*%&^?

25. S.Pardede - Juli 16, 2008

cerita ini sungguh menyentuh hatiku, mengigatkan aku pada kedua orang tuaku yang telah bersusah payah untuk menyekolahkan aku hingga pada jenjang pendidikan yang lebih tinngi. semoga cerita bisa mengigatkan aku pada kedua orang tuaku dimanapun saya berada dan dalam situasi apapun.

26. CUTE - Juli 17, 2008

I LOVE U MOM N DAD……
FOREVER…….

27. MAKMUR SANTOSA - Juli 17, 2008

terima kasih kanda penulis, cerita ini sangat bagus mengingatkan kita kembali pada masa masa kecil kita dulu..

28. Firman Sitompul - Juli 22, 2008

i like it

29. dadang maulana - Agustus 3, 2008

bismillahirrahmannirrahim….
syukron kastir buat yang bikin cerita ini….karena telah membuat hati banyak orang bergetar dan ana yakin pazti banyak orang yang teharu setelah mendengar cerita ini……ana minta izin buat print cerita ini, buat ana ceritain k teman2 halaqah, truz nak2 pesantren di daerah ana…..sekali lagi syukron katsiron

30. don juancox - Agustus 15, 2008

lain kali jangan ibaratkan orang tua dengan pohon, soalnya orang tua kita itu lebih mulia daripada pohon

31. Meutia Ramanda - Agustus 17, 2008

awal baca cerita ini aku merasa anak lelaki itu tak punya perasaan, tapi stelah baca semuanya dan direnungkan bisa jadi suatu saat aku yang jadi anak lelaki itu… tapi semoga aja tidak karna aku sayang orang tua ku…. tidak terasa aku meneteskan air mataku juga…
bagus banget dech ceritanya….” good luck….@

32. amonk - Agustus 31, 2008

its a good story…
its can depeer of my heart…
thx for the story…
i’ll wait the next story

33. puta07 - September 1, 2008

wiiiiiiiiissssssshhhhhhhhhh………

crtx mexenth bgt,,,,,,,,

q trhru bgt ngbca crta ini…………

34. @nna.Jf. - September 6, 2008

” D awl dr bhsa yng hlus, mbt q sngt tstu” btp bsr pngorbnan ortu kt uk kt mrk rela mngrbank’ sglanya dm ankny’ yg ia CINTA” SADARkah kt sbgai anknya’wahai saudara q syngilah ortu kt slgi mrk msh bernyawa: jdlah ank yg sholeh-sholeha yg mnjd dbaan orgtu.” Haraplah CINTA Allah dengan mctai ortu kt & Org d skliling kt” (srie)

35. nube - September 8, 2008

nyentuh bgt nih cerita

36. hendry pohan - September 9, 2008

Artikel yang sangat bagus,
salut……

37. multama - September 9, 2008

Tulisan yang indah, penempatan objek cerita yang tepat. Salut dah pokoe. Penuh pesan moral dan imajinasi.

38. Didik - November 2, 2008

Subhanallah,,begitu ikhlas dan tulus kasih sayang orang tua qt kpd qt,,,mereka selalu memberi tanpa diminta,tanpa d suruh,tapi keikhlasan orang tua kpd anak adalah surga hakiki

39. elha - Januari 14, 2009

awal membaca cerita ini…,, saya merasa anak kecil tadi hanya mementingkan dirinya sendiri. namun setelah selesai membaca keseluruhan cerita, saya baru sadar betapa besar perjuangan orangtua kita selama ini. maafkan saya bu…,, mgkn slama ini saya tdk pernah sadar akan hal itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: