jump to navigation

Ajaran Orang Tua Kaya vs Miskin pada anaknya by Robert Kiyosaki Juni 16, 2007

Posted by safruddin in Review2 buku.
trackback

Ajaran Orang Tua Kaya vs Miskin pada anaknya
Robert T. Kiyosaki

Apa yang diajarkan orang kaya pada anak-anak mereka tentang Uang, yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah.

Rich Dad, Poor Dad, Seperti dikisahkan oleh Robert Kiyosaki:

Saya mempunyai dua ayah, yang satu kaya dan yang satu miskin. Yang satu berpendidikan tinggi dan intellgen; dia mempunyal gelar Ph.D. dan menyelesaikan empat tahun pendidikan sarjananya hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Kemudian dia melanjutkan studinya ke Stanford University, University of Chicago, dan Northwestern University, sermuanya dengan beasiswa penuh. Ayah yang satunya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP-nya.
Kedua ayah saya itu berhasil dalam karier mereka, bekerja keras seumur hidup mereka. Keduanya memperoleh penghasilan besar. Tapi yang satu berjuang keras atau bersusah payah secara finansial sepanjang hidupnya. Sedang yang satunya kelak menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii. Yang satu mati meninggalkan puluhan juta dolar untuk keluarganya, dan gerejanya. Yang satunya mati meninggalkan banyak tagihan/utang untuk dibayar atau dilunasi.
Kedua pria itu kuat, kharismatis, dan berpengaruh. Keduanya memberi saya nasihat, tetapi nasihat mereka tidak sama, bahkan kerap sangat berbeda. dan bertentangan. Keduanya sangat percaya pada didikan tetapi tidak merekomendasikan jalur studi yang sama.

Uang tidak diajarkan di sekolah. Sekolah berfokus pada keterampilan di bidang pelajaran dan keterampilan profesional, bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana bankir, dokter, dan akuntan yang pandai dan memperoleh ranking yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka. Utang nasional kita yang menggunung sebagian besar disebabkan karena para politikus dan pejabat pernerintah yang berpendidikan. Tinggi membuat keputusan finansial dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa latihan mengenai masalah uang.

Karena saya mempunyai dua ayah yang berpengaruh, saya belajar dari mereka berdua. Saya harus memikirkan. nasihat masing-masing ayah, dan dalam melakukan ini, saya memperoleh wawasan berharga tentang kekuatan dan pengaruh pikiran seseorang pada hidupnya. Misalnya, ayah yang satu mempunyai kebiasaan mengatakan, “Saya tidak mampu membelinya.” Ayah yang lain melarang penggunaan perkataan seperti itu. Dia mendesak saya untuk berkata, “Bagaimana saya bisa membelinya?” Yang satu adalah pernyataan, yang satunya lagi adalah pertanyaan. Yang satu melepaskan anda dari kesulitan, yang satunya lagi memaksa anda untuk berpikir. Ayah saya yang segera menjadi-kaya menjelaskan bahwa secara otomatis mengucapkan perkataan, ” tidak bisa membelinya,” otak anda berhenti bekerja. Sebaliknya, de mengajukan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membelinya?” otak harus bekerja. Yang dia maksudkan bukanlah membeli segala ses yang anda inginkan. Dia fanatik dalam hal melatih pikiran a komputer paling hebat di dunia. “Otak saya semakin kuat setiap har karena saya melatihnya. Semakin kuat otak saya, semakin banyak membelinya .” adalah sebuah tanda kemalasan mental.

Meskipun kedua pria itu mempunyai respek yang sangat tinggi terhadap pendidikan dan pembelajaran, mereka tidak sepakat dalam apa yang mereka pikir penting untuk dipelajari.
Yang satu menginginkan saya belajar keras, memperoleh gelar, dan mendapat pekerjaan baik untuk menghasilkan uang. Dia menginginkan saya untuk belajar menjadi seorang profesional, seorang pengacara atau akuntan atau ke sekolah bisnis untuk mendapat gelar MBA. Satunya lagi mendorong saya untuk belajar menjadi kaya, untuk memahami bagaimana uang bekerja, dan belajar bagaimana membuat uang bekerja untuk saya. “Saya tidak bekerja untuk uang!” adalah perkataan yang dia ulang berkali-kali, “Uang bekerja untuk saya!”

Uang adalah satu bentuk kekuasaan, kekuatan. Tetapi apa yang lebih kuat adalah pendidikan finansial. Uang datang dan pergi, tetapi jika anda mempunyai pendidikan tentang bagaimana uang bekerja, anda memperoleh kekuasaan atasnya dan dapat mulai membangun kekayaan. Alasan pernikiran positif saja tidak berhasil adalah karena kebanyakan orang pergi ke sekolah dan tidak pernah belajar bagaimana uang bekerja, sehingga mereka menghabiskan hidup mereka untuk bekerja demi uang.
Karena saya baru sembilan tahun ketika mulai, pelajaran yang diajarkan ayah saya yang kaya sederhana saja. Dan ketika semua dikatakan dan dikerjakan, hanya ada enam pelajaran pokok, yang diulangi lebih dari tiga puluh tahun. Buku ini bicara soal enam pelajaran itu, ditulis sesederhana mungkin seperti yang diajarkan ayah
saya yang kaya kepada saya. Pelajaran itu tidak dimaksudkan untuk menjadi jawaban tetapi tonggak penunjuk jalan. Tonggak penunjuk jalan yang akan membantu anda dan anak?anak anda untuk tumbuh lebih kaya dan lebih makmur, tanpa mempedulikan apa yang terjadl di dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian ini.

Rich Dad, Poor Dad
Apa yang Diajarkan Orang Kaya pada Anak-anak Mereka tentang Uang—yang tidak Diajarkan oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah.
Oleh Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L.Lechter C.P.A

Semua mahasiswa Ekonomi seharusnya membaca buku ini!
Dan siapa saja yang ingin bijak dalam mengelola uang harus mengkoleksinya!

Buku ini akan:

  •   Menghancurkan mitos bahwa anda harus mendapatkan pemasukan yang tinggi untuk menjadi kaya.
  •   Mempertanyakan keyakinan bahwa rumah anda adalah asset.
  •   Menunjukkan pada orangtua mengapa mereka tidak dapat mengandalkan system sekolah untuk mengajar anak-anak mereka dalam hal uang.
  •   Mendefinisikan dengan tajam dan jelas perbedaan antara aset dan liabilitas.
  •   Menunjukkan cara mengajar anak-anak anda soal uang sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan yang tidak anda peroleh.

Komentar»

1. ryanis - Mei 26, 2008

Alhamdulillah saya suda membaca bukunya. Saya suka buku2 Robert T. Kiyosaki. Yang pertama sekali saya baca adalah buku Bussiness School. Setelah baca buku ini, alur pikiran saya berubah 180 derajat. Ternyata semua yang sudah saya pelajari di sekolah hanya…. ya… ujung2nya untuk jadi karyawan. Alhamdulillah sekarang saya sedang berpindah kuadran menjadi Bisnis Owner.
Dan setelah membaca buku RIch Dad Poor Dad, hal yang paling saya ingat adalah masalah perbedaan antara Liabilitas dan Aset. Tenryata selama ini saya salah, uang banyak dihabiskan untuk Liabilitas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: